Tugas Softskill "Kebudayaan Solo dan Artikel(Puisi)"
Nama : Chairun
Nissa Puspitasari
Npm : 11116550
1.
Sejarah Solo
Surakarta atau disebut juga “sala” yang lebih
dikenal dengan Solo adalah kota yang terletak di provinsi Jawa Tengah yang
berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah
utara, Kabupaten Karangayar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah
timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan.Sisi timur
kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu
lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Solo
merupakan pewaris Kerajaan Mataram yang dipecah pada tahun 1755.
“Sala” adalah dusun yang dipilih oleh Sunan
Pakubuwana II dari tiga dusun yang diajukan kepadanya ketika akan mendirikan
istana yang baru, setelah perang suksesi Mataram terjadi di Kartasura.Nama
ini berasal dari kepala desa Sala pada waktu itu, yaitu Kyai Sala (Kyai Gêdhe
Sala).Nama ini ternyata terus dipakai secara luas sampai sekarang, bahkan
memiliki konotasi kultural. Nama “Surakarta”, yang sekarang dipakai sebagai
nama administrasi yang mulai dipakai ketika Kasunanan didirikan, sebagai
kelanjutan monarki Kartasura.
Pada masa sekarang, nama Surakarta digunakan dalam
situasi formal-pemerintahan, sedangkan nama Sala/Solo lebih umum penggunaannya.
Kata sura dalam bahasa Jawa berarti “keberanian” dan karta berarti
“sempurna”/”penuh”. Dapat pula dikatakan bahwa nama Surakarta merupakan
permainan kata dari Kartasura. Kata sala, nama yang dipakai
untuk desa tempat istana baru dibangun, adalah nama pohon suci asal
India, sala, yang bisa Couroupita guianensis atau Shorea robusta. Ketika Indonesia
masih menganut Ejaan van Ophuysen, nama kota ini ditulis Soerakarta.
Kebudayaan yang ada di Solo
Ada
beberapa kebudayaan yang berada di solo yaitu:
a. Sekaten
Yaitu perayaan yang dilaksanakan setiap bulan mulud
untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 12 Maulud
diselenggarakan Grebeg Maulud. Kemudian diadakan pesta rakyat selama dua
minggu. Selama dua minggu ini pesta rakyat diadakan di Alun-alun utara. Pesta
rakyat menyajikan pasar malam, arena permainan anak dan pertunjukan-pertunjukan
seni dan akrobat. Pada hari terakhir Sekaten, diadakan kembali acara Grebeg
Maulud di Alun-alun Utara.
Rangkaian
ritual adat Grebeg Maulud secara lengkap adalah :
1.
Tabuhan Gamelan Pusaka Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari.
Memboyong gamelan pusaka dari keraton ke Masjid
Agung Solo kemudian menabuh gending Rambu dan Rangkur sebagai prosesi Pembuka
Maleman Sekaten. Ritual ini dilakukan pada tanggal 5 Mulud (Tahun Jawa). Kedua
gamelan terus ditabuh hingga menjelang pelaksanaan Grebeg Gunungan Sekaten
tujuh hari kemudian.
2.
Jamasan Meriam Pusaka Kyai Setomi
Menjamasi (membersihkan) meriam pusaka yang terletak
di Bangsal Witono, sitihinggil utara Keraton Kasunanan Surakarta. Dilakukan 2
hari sebelum Grebeg Gunungan Sekaten.
3.
Pengembalian Gamelan Pusaka ke dalam Keraton.
Pagi hari sebelum pemberian sedekah Raja, para abdi
dalem keraton memboyong kembali gamelan pusaka dari Masjid Agung.. Gamelan Kyai
Guntur Madu langsung dimasukkan ke dalam ruang pusaka, sedangkan Kyai Guntur
Sari dibawa ke depan Sasana Sewaka. Kyai Guntur Sari akan dibawa dan ditabuh
kembali untuk mengiringi Hajad Dalem Gunungan Sekaten ke Masjid Agung
4.
Pemberian sedekah Raja berupa gunungan di Masjid Agung
Raja Sinuhun Pakoeboewono memberikan sedekah kepada
rakyatnya berupa makanan tradisional dan hasil bumi yang disusun dalam bentuk
gunungan jaler (laki-laki) dan estri (perempuan). Gunungan ini akan diarak
menuju Masjid Agung diiringi oleh seluruh sentana dan abdi dalem, para prajurit
serta gamelan Kyai Guntur Sari yang dimainkan sambil berjalan. Gunungan ini
akan didoakan oleh ulama Keraton di masjid Agung kemudian dibagikan kepada
seluruh warga. Grebeg Gunungan digelar bersamaan dengan hari kelahiran Nabi
Muhammad SAW yakni tanggal 12 Mulud (Tahun Jawa).
b. Tari Bedhaya Ketawang
Tari Bedhaya Ketawang adalah sebuah tari yang amat
disakralkan dan hanya digelar dalam setahun sekali. Konon di dalamnya sang Ratu
Kidul ikut menari sebagai tanda penghormatan kepada raja-raja penerus dinasti
Mataram.
Asal
mulanya tari Bedhaya Ketawang hanya diperagakan oleh tujuh wanita saja. Dalam
perkembangan selanjutnya, karena tari ini dianggap sebuah tarian khusus dan
dipercaya sebagai tari yang amat sakral kemudian diperagakan oleh sembilan
orang.
Berbeda
dengan tarian lainnya, Bedhaya Ketawang ini semula khusus diperagakan oleh abdi
dalem Bedhaya Keraton Surakarta Hadiningrat. Iramanya pun terdengar lebih luruh
(halus) dibanding dengan tari lainnya semisal Srimpi, dan dalam penyajiannya
tanpa disertai keplok-alok (tepuk tangan dan perkataan)
Siapa
sebenarnya pencipta tari Bedhaya Ketawang itu sendiri sampai sekarang memang
masih simpang siur.
c. Kirab Pusaka 1 Suro
Yaitu acara yang ditujukan untuk merayakan tahun
baru 1 suro. Rute yang ditempuh kurang lebih sejauh 3 km, yaitu Keraton –
Alun-alun Utara – Gladak – Jl. Mayor Kusmanto – Jl. Kapten Mulyadi – Jl.
Veteran – Jl. Yos Sudarso – Jl. Slamet Riyadi – Gladak kemudian kembali ke
Keraton lagi. Pusaka- pusaka yang memiliki daya magis tersebut dibawa oleh para
abdi dalem yang berbusana Jawi Jangkep. Kirap yang berada di depan adalah
sekelompok Kebo Bule bernama Kyai Slamet sedangkan barisan para pembawa pusaka
berada di belakangnya. Acara ini di selenggarakan oleh Keraton Surakarta dan
Puro Mangkunegaran yang dilaksanakan pada malam hari menjelang tanggal 1 suro.
d. Solo Batik Carnival
adalah sebuah festival tahunan yang diadakan oleh
pemerintah Kota Surakarta dengan menggunakan batik sebagai bahan utama
pembuatan kostum. Para peserta karnaval akan membuat kostum karnaval dengan
tema-tema yang di tentukan. Para peserta akan mengenakan kostumnya sendiri dan
berjalan di atas catwalk yang berada di jalan Slamet Riyadi. Karnaval ini
diadakan setiap tahun pada bulan Juni sejak tahun 2008.
e. Grebeg Sudiro
Yaitu perayaan yang diadakan untuk memperingati
Tahun Baru Imlek dengan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa. Festival yang dimulai
sejak 2007 ini biasa dipusatkan di daerah Pasar Gedhe dan Balong (di kelurahan
Sudiroprajan) dan Balai Kota Solo.
2. PUISI
KETIKA SAHABAT MENJADI CINTA
Kebahagiaan sebuah pertemanan
kini telah berubah menjadi keindahan
sebuah kisah cinta
yang dulunya bertengkar sekarang menjadi
damai akan hadirnya cinta
dan pernah ada yang menyangka bahwa
sebuah pertemanan bisa menjadi sebuah
percintaan
Dan mungkin semua orang tau
bahwa cinta itu berawal dari sebuah
pertemanan
Keindahan sebuah persahabatan lebih
indah
jika di tambah dengan sebuah kisah cinta
antara dua makhluk yang saling
mengkasihi
Sumber
https://praptoprasojo.wordpress.com/2013/07/02/kebudayaan-daerah-solo/





Komentar
Posting Komentar